Jumat, 04 Mei 2012

“Masalah Mendewasakan ku”


Perlahan cahaya dari langit pun datang menghilangkan kegelapan hari, ku ambil sajadah untuk menghadap kepada sang pencipta, setelah solat ku tunaikan, waktu perlahan berjalan . tak terasa kegiatanku telah membuatku terbawa oleh waktu. Waktu menunjukkan pukul 07.30, segera aku ambil sepatuku dan bergegas menuju ke tempat menuntut ilmu.
            Setiba di ruangan tempatku menuntut ilmu,semua anganku melayang menembus tembok besar yang menghalangi pandanganku ini. Sambil berhayal aku rajut anganku ini dengan bolpoin yang sedang aku genggam. Ketika aku sedang berhayal tinggi di langit, suara kaki pahlawan tanpa tanda jasa membubarkan hayalanku, kulihat anak laki-laki berjalan membuntuti pahlawan tanpa tanda jasa itu. Laki-laki bertubuh gendut itu ternyata adalah anak yang baru saja masuk dan menginjakkan kaki di sekolahku ini. Setelah perkenalan selesai lelaki itu mendekatiku dan meminta izin duduk di sebelahku. Kupersilakan dia dekat denganku, kupandangi wajah lelaki ini, putih,bersih,dan sangat manis ketika tersenyum. Menurutku dia tidak terlalu gendut untuk tubuh seorang lelaki. Ketika bel yang menandai berakhirnya pelajaran selesai,aku bergegas pulang ke tempat tujuh jam yang lalu aku berada,tempat yang didalamnya banyak kisah yang terukir dengan pena emas.
            Cuaca hari ini memang sedikit tidak bersahabat, awan biru berubah jadi abu-abu, demikian pula semangat orang yang sedang bekerja serasi dengan warna awan hari ini. Sebenarnya saat-saat inilah yang orang-orang di desaku tunggu.Sudah hampir dua minggu kampong kami dilanda kekeringan,masa panen sudah menjadi impian yang jadi abu bagi para petani di desaku.
            Perlahan fajar menyembunyikan dirinya ,kupegang buku yang menjadi jendela pengetahuanku, kucerna tiap kata yang kubaca,sedikit demi sedikit aku mulai mengenal kata-kata yag dulu buta oleh mataku. Ketika kata-kata yang aku baca sedang tertulis di otakku,sebuah bunyi yang selama ini aku tunggu mulai terdengar ,kutatap genteng diatasku,air dari tangan tuhan pun akhirnya turun. Aku bergegas berlari mengambil gentong di dapur dan membuka pintu untuk lebih merasakan air hujan yang turun tadi. Kutaruh gentong tadi agar air masuk mengisinya. Oh sungguh anugrah tuhan, kuucapkan berkali-kali rasa syukurku. Tak lama orang yang aku cintai dari aku lahir hingga aku meninggal pun keluar, mereka tersenyum bahagia,kami saling berpelukan.Air bukanlah hal yang sepele bagiku,air adalah kebutuhan pokok yang aku dan keluarga,bahkan semua orang butuhkan. Setelah kurasa cukup, aku kembali ke kamarku. Rupanya waktu membuat hari semakin larut malam,kuletakkan tubuhku di ranjang yang penuh dengan kehangatan. Aku tertidur pulas ditemani oleh kisah yang mimpi berikan tanpa kutau sebelumnya. Dalam mimpiku aku melihat wajah yang samar-samar, sosok itu tersenyum padaku dan memeluk diriku, seorang pria yang tampan parasnya itu berkata “Aku akan menjagamu dan menyayangimu”. Kutatap pria itu lebih dalam, dan mulai kusadari, pria itu adalah siswa baru yang duduk di dekatku di sekolah. Aku terbangun dan beristighfar dengan terheran-heran, apa maksud  dari mimpiku itu ?

MANIS PAHITNYA CINTA


Di rumah aju tampak tersenyum gembira, aku teringat tentang kejadian yang terjadi kemarin siang sepulang sekolah, tepatnya di Masjid yang ada di sekolah.Aku bertemu pria yang amat kusyu dalam beribadah. Setelah pria itu keluar, pria itu menyapa aku, dia bertanya tentang sesuatu hal.Pria itu sangat tampan, sekarang aku teringat akan senyumnya yang manis, bagaikan sebatang daun yang menebarkan pesonanya. Sungguh,ingin ku kenali dirinya, sepertinya tak ada satupun kekurangan yang ada di sosok pria itu.
            “Tapi, aku tak tahu dengan pria itu??? Akankah aku akan bertemu lagi dengan pria itu? Rasnya sungguh tidak munkin!!. “Hatiku bertanya……
            Aku memang sudah gila…!! Sekali bertemu dengan seoran pria  saja sudah begini. Dengan terbayang wajah manisnya, aku tertidur lelap dan berharap wajahnya dating dalam mimpi tidurku…….Malam semakin larut, akupun tertidur dengan nyenyak….
Malampun berganti hari, kini ayam berkokok mulai trdengar. Matahari mulai menampakkan diri, dan akupun mulai melebarkan mata untuk mulai beraktifitas kembali. Rasanya pagi ini aku benar- benar merasa berbeda. Apa mungkin aku masih teringat –ingat akan sosok lelaki misterius itu??... entahlah…???
Akupun bersiap untuk pergi ke sekolah pgi ini. Jam sudah menunjukkan angka 06;37, aku bergegas untuk berangkat.
Sungguh aku terkejut, ketika aku sampai di gerbang sekolah, aku melihat untuk yang kedua kalinya sosok pria itu. “Apa aku sedang bermimpi??. :Hatiku bertanya, namun ketika aku masuk kedalam sekolah aku benar-benar melihat pria itu… Ternyata pria itu murid baru di sekolahku. Dia ada di kelas XI IPA 2. Sungguh benar –benar hebat . Haripun berlalu, sedikit aku tahu tentang pria itu, ternyata dia bernama Satya, dan dia juga mulai mengenaliku. Hatiku berdebar saat aku melihatnya, aku baru percaya akan cinta pada pandangan pertama. Hingga setiap jam efektif pelajaran akumasih selalu terbayang akan senyum manisnya.
Belpun berbunyi, tanda waktu pelajaran berakhir. Aku keluar dari kelas dan aku berharap aku dapat melihat Satya. Tapia pa yang terjadi?aku tidak melihat satya pada waktu anak-anak sudah keluar kelas, aku sempat kecewa.
Lama aku menunggu jemputan dating,rasa kecewa tidak melihat satya, rasa pingin marah gara-gara jemputan, bercampur jadi satu.
Tapi…….. aku benar-benar terkejut ketika ada suara laki-laki memanggilku…..
“ Hai….”
“ Eh…ya, hai juga”. Aku benar-benar terkejut waktu satya menyapaku.
“ Iya… iiya, aku masih ingat , aku tidak tahu kalau kamu aka sekolah di sini.”
Aku gugup,ketika dia bertanya.
“Iya,aku  siswa baru di sekolah ini, nama kamu siapa ?”
“Aku  Nadia, kelas XI Bahasa.”

Kerikil-Kerikil Kehidupan; Cerpen Ninda


“Ma, aku berangkat dulu ya.”, seruku pada Mama sambil mencium tangannya.
“Ya, hati-hati ya, Re..” jawab Mama seraya memeluk dan mencium keningku.
Aku hentakan kakiku, aku berjalan dan membayangkan apa yang akan terjadi di sekolah baruku nanti. Ya, hari ini hari pertama aku masuk sekolah Menengah Atas setelah kurang lebih sekitar 3 tahun aku berjuang dengan seragam putih-biruku. Dan sekarang aku tidak menyangka bahwa sebentar lagi seragam putih-biru ini kan berganti menjadi putih abu-abu dengan balutan kain putih di kepalaku. “Pasti hari ini akan menjadi hari yang istimewa untukku. Aku harus menghilangkan sifat kekanak-kanakanku, aku kan sekarang sudah dewasa, dan juga aku harus siap dengan segala tugas yang akan diberikan oleh kakak seniorku nanti”, bayangku dengan senyum menghiasi wajah ini.
Upppsss, tiba-tiba aku teringat akan satu hal. Ya, 1 buah tas kotak masih tergeletak di atas meja belajarku.”Ya Tuhan, ternyata masih tergeletak di atas meja”. Segera aku kembali ke rumah yang jaraknya tak jauh dari tempat aku berjalan. “Ma, tolong ambilkan tas kotak di atas meja belajarku ya”. “Aaahhh untung saja aku ingat dengan barang itu. Apa jadinya nanti jika aku lupa membawanya”. Batinku dalam hati.
Maklum, secara tas itu berisi barang-barang keperluan MOS ku selama 3 hari kedepan. Semalam aku bekerja keras membuat semua tugas-tugas untuk MOS hari ini. Kemarin dengan ditemani Mama aku membeli barang-barang yang disuruh oleh kakak seniorku, seperti topi dari pot bunga, tas karung, kacamata hitam, sampai barang-barang lainnya yang tidak boleh aku lewatkan satupun. Malam harinya aku membuat kalung dari bahan dapur seperti cabai, bawang putih, hingga merangkai gelang mainan. Haaaah bayangkan ! Jam 1 pagi aku baru bisa memejamkan mataku setelah semalaman menyelesaikan tugas untuk kegiatan MOS besok. Tapi itu tak masalah bagiku. Karena aku sudah tidak sabar melewati kegiatan MOS 3 hari kedepan di sekolah baruku nanti.
Aku berjalan menyusuri trotoar menuju sekolah baruku itu.”Ya Tuhan, apa yang akan terjadi di sekolah baruku nanti? Masuk kelas baru, berkenalan dengan teman – teman baru, guru-guru yang baik, lingkungan yang baru nan sejuk, dan awwwwww…Sebuah batu kerikil memecahkan lamunanku. Tak sadar ternyata aku sudah tiba didepan gerbang sekolah baruku. Tiba-tiba seseorang memanggilku dengan nada keras. “ Hey kamu, tidak lihat apa, ini sudah jam berapa ? Apa kamu tidak mencatat peraturan selama MOS 3 hari ini ?” Seru seseorang itu seraya menatap wajahku penuh marah. Ternyata seseorang itu tak lain adalah salah satu kakak seniorku yang akan memandu kegiatan MOS ini.